Thursday, June 4, 2026

2026 Mulai Blogging sebagai ADHD Dewasa

2026 ini aku melakukan screening test ADHD Dewasa. Surprisingly, tidak mengejutkan sama sekali. Hasilnya ADHD Dewasa Inattentive. Kalau kamu lihat perempuan remaja pendiam yang kepalanya berisik sementara bukunya sulit dibaca bahkan orang dewasa, kemungkinan dia termasuk golongan neurodivergen yaitu salah satunya ADHD. 

Lucunya, ADHD itu gak melulu terlihat anak-anak ceria yang hiperaktif dan berantakan. ADHD bisa old soul yang terjerat di tubuh remaja. Oh, maksud aku ADHD penuh luka karena lahir di keluarga disfungsi seperti aku. Bacaan remaja ADHD dengan IQ di atas rata-rata mungkin saja Haruki Murakami, Paulo Coelho, terkadang Djenar Maesa Ayu, Dewi Lestari, dan komik jenaka seperti Kungfu Komang.

Otak ADHD itu paradoks, apalagi kelakuannya. Hahaha.. Aku pernah bertanya kepada teman-teman ADHD terutama yang cowok.

"Kalian tuh hyperseksual terus suka gonta ganti pasangan ya?"

"I mean impulsif dalam aktivitas seksual."

Kata mereka,"Iya lagi, makanya hubungan pernikahanku berantakan."

Lalu aku tanya lagi,"Ada gak hal yang bikin kamu bisa nge-rem? I mean, kepengen icip perempuan sana-sini kan "dark traits" ya."

Lalu dia jawab,"Ya, aku lihat anakku sih. Dan juga gak aku pungkiri agama jadi rem. Kepercayaan Tuhan Maha Melihat kita semua bikin aku mikir dua kali kalau mau ngelakuin dosa."

Kalau dipikir-pikir bener juga. Selain norma sosial dan moral dalam bermasyarakat, norma agama penting banget buat ADHD yang otaknya unlimited ambil source. Jujur, AI kalah, deh kalau soal sedot menyedot data. Ini udah another level Cloud Storage-nya Allah yang ciptakan.

Aku juga kalau tanpa mengimplementasikan agama, bakalan jablay sama cowok manapun. Siapa yang mau dan bisa kasih aku rasa sayang dan kasihan. Hayoooook! 

Alhamdulillah, Allah menyelamatkanku dari kebodohan dan impulsif karena syahwat. Namun sayang, seperti halnya penyintas KS lain, saking menjaga dirinya aku, tidak ada kondisi pertengahan. Aku memilih punya pasangan atau tidak sama sekali. Selama 35 tahun ini aku pilih tidak berpasangan. Simply, aku takut addict dan bablas karena aku belum punya filter bagus saat mulai anxious ter-attach dengan lawan jenis.

Another alhamdulillah. Tahun ini di usia 36 tahun, aku mulai menemukan akar masalah trauma aku. Sekarang aku bisa sangat jelas punya parameter dalam memilih dan menetapkan guideline buat calon pasanganku. Rasanya aku siap menikah di tahun 2026 ini dengan lelaki impianku. Ahaaaaay...siapakah dia? Wallahu a'lam. 

Allahumma inni as aluka lelaki kaya lahir bathin dan bijak dalam urusan dunia wal akhirat. Aku dapat keluarga wajar betulan healthy realationship dari pihak suami nanti. I wish when yaa...