Showing posts with label pathfinder. Show all posts
Showing posts with label pathfinder. Show all posts

Thursday, June 25, 2026

Mengingat Masa Resign 10 Tahun Lalu

 Aaah...aku nahan nangis, nih.

Aku baru ingat, aku belum pernah memproses rasa sedihku ketika resign (terpaksa) dulu.


Aku tertipu!!!

Aku dibentak durhaka karena ibuku jatuh sakit. Katanya jantung. Ternyata baru tahu itu pasang ring. Maksudku itu memang sangat tidak nyaman, tapi bukan berarti urgensinya seperti bypass jantung.


Lucu, tahu gak siapa yang bikin aku termanipulasi sampai aku memilih resign?

Tanteku! Which is adeknya Mamaku.

I feel ssoooooo stupiiiiiiid.


Dan sampai sekarang aku masih ingin kembali ke Jakarta.

Bayangin mimpiku terkubur 10 tahun di Surabaya.

Sampai yang tadinya kota aku cintai, sekarang eneg dikit banyak, lah!


Karena aku lagi rajin optimasi profil LinkedInku, aku kembali menelusuri file-file lawas.

Gak sengaja, ketemulah sebuah lembar exit interview.

Aduuuuuuuuh, aku langsung nangiiiiis sambil kayak ngambek mencak-mencak gitu.

Lelah banget punya mimpi tapi keluarga selalu menjadi penghalang.


Sore ini, aku merilis rasa sedih yang aku tahan 11 tahun lalu. Pelan-pelan.

Aku sadar, aku gak pernah melampiaskan sepenuhnya karena ketika muda dulu, aku belum paham ini apa.

Maklum ya, kayaknya aku ini PTSD, deh! Jadinya, suka lupa ingatan dan lupa merasa tepatnya.

Aku juga baru saja menyadari di pekan lalu, kenapa mimpiku gak pernah terbang lancar.

Ternyata ini semua bukan karena tidak ada support keluarga, justru malahan karena setiap ingin terbang, sayapku selalu dipotong oleh mereka. 

Sayangnya, selama ini aku gak pernah menoleh ke samping kanan kiri dan belakang ketika hendak terbang. Jadinya, aku pikir,"Oooh...Allah gak ngeizinin aku terbang ya. Mungkin ada cuaca buruk di atas sana, makanya Allah tidak mengizinkan aku terbang."


Haaaaaaaaaaaaaaaaahhh...ternyata itu hanyalah toxic positivity yaaa biar masih dikira rumahku surgaku.


Ya udah sekian. Tadi belum nangis tapi udah mewek ngambek gitu. Weeeww...gak kebayang nanti suamiku bakal lihat aku ngambek kayak anak kecil gak keturutan pergi ke tempat ice skating. Hahahaha. Waras yaa, Mas Suami. Hahahahhaa. Karena istrimu ini maybe PTSD and of course ADHD.


What a combooo!!! See you next yapping.


NB. Ternyata selama ini yang bikin aku kacau adalah ibuku yang dimanipulasi sodara-sodara kandungnya semua. I guess karena ibuku berkarir tinggi tapi gak emotionally independent. Jadinya hal kecil tanya ke saudaranya dan which is jawabannya sangat lame dan parah. Alhamdulillah tahun ini ibuku sudah cut off saudara toxicnya (belum semua). Itupun karena aku  udah bilang ke ibuku kalau saudara-saudaranya gila dan tidak punya sopan santun.

Thursday, June 4, 2026

2026 Mulai Blogging sebagai ADHD Dewasa

2026 ini aku melakukan screening test ADHD Dewasa. Surprisingly, tidak mengejutkan sama sekali. Hasilnya ADHD Dewasa Inattentive. Kalau kamu lihat perempuan remaja pendiam yang kepalanya berisik sementara bukunya sulit dibaca bahkan orang dewasa, kemungkinan dia termasuk golongan neurodivergen yaitu salah satunya ADHD. 

Lucunya, ADHD itu gak melulu terlihat anak-anak ceria yang hiperaktif dan berantakan. ADHD bisa old soul yang terjerat di tubuh remaja. Oh, maksud aku ADHD penuh luka karena lahir di keluarga disfungsi seperti aku. Bacaan remaja ADHD dengan IQ di atas rata-rata mungkin saja Haruki Murakami, Paulo Coelho, terkadang Djenar Maesa Ayu, Dewi Lestari, dan komik jenaka seperti Kungfu Komang.

Otak ADHD itu paradoks, apalagi kelakuannya. Hahaha.. Aku pernah bertanya kepada teman-teman ADHD terutama yang cowok.

"Kalian tuh hyperseksual terus suka gonta ganti pasangan ya?"

"I mean impulsif dalam aktivitas seksual."

Kata mereka,"Iya lagi, makanya hubungan pernikahanku berantakan."

Lalu aku tanya lagi,"Ada gak hal yang bikin kamu bisa nge-rem? I mean, kepengen icip perempuan sana-sini kan "dark traits" ya."

Lalu dia jawab,"Ya, aku lihat anakku sih. Dan juga gak aku pungkiri agama jadi rem. Kepercayaan Tuhan Maha Melihat kita semua bikin aku mikir dua kali kalau mau ngelakuin dosa."

Kalau dipikir-pikir bener juga. Selain norma sosial dan moral dalam bermasyarakat, norma agama penting banget buat ADHD yang otaknya unlimited ambil source. Jujur, AI kalah, deh kalau soal sedot menyedot data. Ini udah another level Cloud Storage-nya Allah yang ciptakan.

Aku juga kalau tanpa mengimplementasikan agama, bakalan jablay sama cowok manapun. Siapa yang mau dan bisa kasih aku rasa sayang dan kasihan. Hayoooook! 

Alhamdulillah, Allah menyelamatkanku dari kebodohan dan impulsif karena syahwat. Namun sayang, seperti halnya penyintas KS lain, saking menjaga dirinya aku, tidak ada kondisi pertengahan. Aku memilih punya pasangan atau tidak sama sekali. Selama 35 tahun ini aku pilih tidak berpasangan. Simply, aku takut addict dan bablas karena aku belum punya filter bagus saat mulai anxious ter-attach dengan lawan jenis.

Another alhamdulillah. Tahun ini di usia 36 tahun, aku mulai menemukan akar masalah trauma aku. Sekarang aku bisa sangat jelas punya parameter dalam memilih dan menetapkan guideline buat calon pasanganku. Rasanya aku siap menikah di tahun 2026 ini dengan lelaki impianku. Ahaaaaay...siapakah dia? Wallahu a'lam. 

Allahumma inni as aluka lelaki kaya lahir bathin dan bijak dalam urusan dunia wal akhirat. Aku dapat keluarga wajar betulan healthy realationship dari pihak suami nanti. I wish when yaa...

Monday, June 28, 2021

MANUSIA MAKHLUK MULIA


Abdullah Ibnu Al Mubarok pernah ditanya,
"Kapankah manusia layak disebut manusia ( makhluk yang mulia ) ?"
Beliau menjawab,
"Di saat ia mengenal Allah dan membuktikan hal tersebut sepanjang hidupnya."
-Ustadz Djazuli hafidzahullahu ta'ala-

Foto adalah senja tahun lalu. 
Saya mencoba cari jalan untuk bisa tetap mendapatkan terapi dan rehat sejenak dari lelahnya menghadapi keluarga ini. Salah satunya adalah saya mulai menghidupkan balkon rumah kosong menjadi kebun mungil sayur. Balkon ini menghadap barat di mana senja tenggelam. Saya rutin pagi dan sore ke kebun mungil ini demi terapi dan hidup sehat lahir bathin. Sebenarnya terapi saya itu ya kajian rutin di masjid, namun Allah masih ingin cerita lain. 

Semoga Rabbku mengangkat wabah penyakit ini, yang menyiksa hambaNya dengan memberi hikmah yang begitu banyak. Jadikan hamba seseorang yang tidak mudah mengeluh atas takdirMu. Aamiin.

Tetap jalani prokes dengan ikhlas demi taat kepada Allah dan ulil amri. Demi ibadah kita.

Saya bagikan potongan senja yang mungkin kalian ingin punya.

Thursday, January 21, 2021

First Post During 2021 Pandemic

Bismillah...akhirnya saya update lagi nih.
Tadinya saya sengaja menghapus app blogger di handphone agar saya ngepost lewat PC saja. Ternyata PC saya yang sudah berusia 12 tahun ini tidak compatible untuk segala bentuk medsos dan aplikasi yang langsung connect via gmail. Maklum Windows Vista lawas. Jadi tulisan tulisan saya banyak yang tertunda.

Selama pandemi aktivitas sehari-hari sangatlah berbeda dibandingkan dengan sebelum pandemi. Saya ingin sekali sharing banyak hal kepada teman-teman apa saja kegiatan saya sampai saat ini, baru justru ketika pandemi ini berlangsung. Alhamdulillah Masya Allah laa haula wala quwwata illa billah.

Sebelum pandemi, karena saya seorang perempuan dan usia yang sudah tidak muda lagi saya sering insecure dan mengalami anxiety. Ternyata banyak sekali tuntutan sebagai seorang perempuan ya that's why I always tell people, please, ladies be good to another ladies and please support each other. Sebelum pandemi saya lebih concern masalah kesehatan, pemasukan dan jodoh pastinya ya, sedangkan setelah pandemi bertambahlah khawatir akan terkena virus dari pandemi ini. Penyakit bawaan saja sudah meresahkan apalagi ditambah adalah dari penyakit yang datang ke Indonesia dan menular.

Sebelum pandemi juga saya sudah belajar hidup bersih, rapi, memakai masker membawa hand sanitizer, dan sering cuci tangan sampai merasa seperti OCD. Dan pastinya sebagai seorang introvert dan seorang INTP/J saya sangat baik dalam menjaga jarak satu sama lain. IT'S INTROVERT LIFE !!

Kedepanny, saya akan menceritakan dan membagikan pengalaman, nasehat, dan hikmah apa saja yang saya dapatkan selama saya di rumah Ibu saya. Ribuan foto sudah saya simpan sebagai kenangan dan gambaran akan apa yang nanti hendak saya utarakan.

Sekian dulu hari ini. Please pray harder and stay healthy.


Saturday, November 23, 2019

Surat Untuk Yang Saling Mencinta Dalam Diam

Surabaya, 8 September 2018 
"Mendo'akanmu adalah cara mencintaimu yang paling sembunyi."~aksarawangiseruni
Puisi di atas adalah sebuah syair yang ditulis dalam bentuk surat oleh Putri Tineke, anak dari Pakubuwono XI, yang sedang patah hati karena cintanya ditentang oleh keluarga. Sang Putri bermuram durja selama 10 tahun.

    Betapa banyak harapan kita pada manusia yang akhirnya berujung kekecewaan. Betapa banyak juga tanpa kita ketahui, kita telah banyak menyakiti perasaan seseorang. Terkadang penyesalan ini datang ketika malam tiba. Hendak menuju tidur. Waktu untuk refleksi diri. Saya selalu meluangkan waktu untuk mengingat hal-hal yang telah saya lalui. Baik yang indah maupun yang pahit. Saya telan semua sesaat sebelum tidur. Terkadang pula, kita teringat seseorang di kala kita hendak bersiap tidur. Baik itu orang yang selama ini kita inginkan atau orang yang tidak biasa kita pikirkan. Pada saat itulah, mungkin, Allah menggerakkan kita untuk mendo'akannya. 

     Banyak kalanya kita memperlakukan seseorang tanpa melihat kondisinya. Dan memang kita tidak peduli dengan kondisi mereka. Tapi ini sesuatu yang sangat disayangkan. Pada dasarnya, kita harus peka. Tidak semua orang seberuntung kita. Tidak semua orang normal dan pintar seperti halnya kita dan anak kita. Tidak semua anak tumbuh sempurna, mendapatkan kasih sayang semestinya, bahkan ada juga yang ditinggal orang tuanya. Seringnya kita tidak mau tahu kondisi psikologis seseorang. Sungguh hal seperti ini menyedihkan. Beberapa tahun belakangan ini karena suatu hal, saya belajar sekilas mengenai anak-anak dyslexia dan yang kemudian dijelaskan pula mengenai anak-anak dengan keterlambatan belajar. Bahkan ada juga yang sudah dewasa. Kemudian, saya bertekad belajar parenting dan menemukan sebuah problem inner child pada diri seorang dewasa. Terkadang, mereka yang menyimpan luka bathin ini dengan samar menunjukkan kepada kita bahwa mereka tidak sedang baik-baik saja. 

    Penting sekali bahwasanya kita mempelajari adab berkomunikasi kepada sesama manusia. Hal ini tidak bisa hanya dengan feeling  dan habit saja. Kebaikan itu harus dicari dan dipelajari. Terkadang kita termakan ego agar merasa diakui. Ego inilah kemungkinan besar bisa menyakiti, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Ketika ada sesuatu yang menyakitkan, akankah ia sembuh dan hilang ? Akankah luka menjadi yang terdalam ? Sebisa mungkin kita menahan diri, mencicipi rasa dari ucapan kita sendiri kemudian baru melontarkannya pada orang lain. Kaidah-kaidah bagaimana menerima dan membalas patut kita pelajari. Terutama kepada orang-orang yang kita sayangi atau hendak kita cintai ( calon pasangan ). Jangan sampai setiap malam kita menyesali dan mengumpulkan memori akan hatinya yang tersakiti. Berhati-hatilah. 

    Suatu saat saya pernah bertanya kepada rekan kantor. Seorang non muslim asal Siantar. Saya lihat dia romantis dengan suaminya, yaitu pacarnya dia dari SMA. Tutur kata begitu lembut. Lalu aku bertanya,"Bagaimana bisa begitu?" Dia menjawab,"Aku setiap pagi dan malam selalu makan kumpul bersama keluarga. Pada saat setelah makan itu, kita berpegangan tangan dan bersama-sama ( dengan mertuanya ) berdo'a agar selalu dijaga cintanya, keutuhan keluarga, dan do'a-do'a lain yang bermanfaat bagi keluarga." Bagiku, ini adalah adab yang sangat baik. Dalam Islam, kita disarankan banyak berdo'a kepada Allah. Bahkan ketika garam habis pun kita disunnahkan untuk berdo'a. Kita butuh Allah dalam segala hal, sekalipun itu dalam hal mencintai hambaNya. Mencintai seseorang yang sudah kita dapatkan secara halal. Tidak lepas begitu saja, karena cinta itu perasaan yang Allah anugerahkan kepada kita, yang setiap waktu mampulah Allah membolak-balikannya. Sebaiknya, sepasang suami istri diam-diam dalam sholatnya, dalam do'anya, dan dalam dzikirnya, selalu meminta Allah untuk meletakkan hati pada dia yang telah halal. Maka, terjagalah cinta di jalan Allah. tegaknya cinta atas ridhoNya.

      Terlebih lagi, apabila pasangan hidupmu adalah seseorang yang kurang mendapatkan kasih sayang dari keluarganya. Maka, perlu bagi sepasang suami istri mencari tahu dan memahami kekurangan dan kelebihan pasangan. Kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari keluarga, lubang kehampaan sangat besar. Berbeda dengan orang yang dari kecil dapat limpahan kasih sayang dari orang tua, tidak akan pernah merasakan apa yang telah dirasakan seseorang yang ditinggalkan orang tuanya baik secara fisik maupun secara bathin. Semoga Allah menyembuhkan luka hati mereka. Semoga Allah menggantikan kekurangan ini dengan kebaikan-kebaikan yang melimpah sehingga terasalah kasih sayang dari Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ

“Barangsiapa yang tidak menyayangi, maka tidak akan disayangi." 
[ HR. Muslim no. 2318 ]


Akhir kata, cintailah orang yang ada di sekitarmu, di masa lalumu, masa sekarangmu dan yang akan menjadi masa depanmu dengan cara yang paling sederhana dan cara inilah yang paling mereka butuhkan. Mendoakannya.

-----------------------------------------------------------------------------------
Maaf mungkin agak gak nyambung ya judul dan kontennya. Saya choked di tengah paragraf. 
Semoga esensi dan kebaikannya bisa diterima. 

Friday, October 18, 2019

KEMBALI PULANG ( NHW#1 )

“Sangkan Paraning Dumadi” adalah kata bijak dari Jawa, yang saya temui ketika saat itu saya begitu takjubnya dengan beberapa literatur sastra lokal yang mencantumkan beberapa pepatah Jawa dalam tulisannya. Bahkan, kata bijak itu menjadi tagline blog pribadi saya, yang serupa makna dan tujuannya, yaitu “saya ingin mengetahui jalan pulang”. Pulang menuju ketenangan. Inilah ilmu yang dari awal usia 20 tahun hingga saat ini saya berusia 29 tahun, akan terus saya cari, gali dan temukan satu per satu.

Pada penghujung tahun 2014, fase jenuh saya menjadi lajang dan office worker, saya mulai flashback. Mundur ke belakang agar mendapatkan sebuah pandangan yang jauh lebih luas lagi. Benar-benar mundur ke belakang dan yang saya lihat saat itu adalah keadaan keluarga saya. Umur yang lebih matang membuat saya berani melihat semua itu, meski seiring waktu mencari jawaban, semakin pahit kenyataannya. Dari situlah, hati saya hancur, namun atas izin Allah saya sadar bahwa saya hanyalah hamba Allah dan saya bertekad benar-benar ingin kembali dan mengenal Sang Pencipta.

Bagaimana cara saya kembali kepada Allah ? 

Saat saya sedih sekali, saya terbiasa membaca Al Qur’an dan terjemahan. Dari membacanya, saya mendapatkan pelipur lara. Lalu terbesit dalam benak saya, saya harus memahami dan mentadabburi firman-firmanNya. Saya pulang ke rumah setelah merantau bekerja, mencoba memperbaiki kepingan-kepingan yang ada dengan mencoba sabar, ridho dan bersyukur. Rumah Allah adalah tempat ternyaman bagi saya. Menuntut ilmu di masjid-masjid adalah sebuah hal baru bagi saya dan saya merasa takjub dan ketagihan. Ternyata banyak sekali hal-hal yang saya tidak tahu, bahkan dari perkara kecil seperti adab memakai sandal hingga perkara-perkara yang besar. Semua tuntunan adab ada dalam ajaran Islam selama kita benar-benar mengambil contoh yaitu dari manusia terbaik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah tidak melepaskan kita dalam sebuah masalah dan musibah. Semua sudah Allah beri manual book, bagaimana bereaksi dan beraksi dalam sebuah perkara. Tinggal kita mau mencari ilmunya dan mengamalkannya atau menularkannya.

Perbedaan yang sangat besar sebelum saya mengenal adab-adab dan ilmu-ilmu adalah sekarang saya mampu membedakan tak hanya antara perkara baik dan buruk, namun juga mampu membedakan antara perkara penting dan sia-sia. Semakin menuntut ilmu, semakin merasa kurangnya pengetahuan. Semakin mengerti adab, semakin pilah pilih dalam berbicara, pilah pilih dalam berfikir dan yang paling menyenangkan adalah menjadi perempuan yang tidak baperan. Kenapa bisa begitu ? Karena semakin kita paham jalan pulang, semakin kita mengenal siapa tempat kita kembali. Semakin besar pula kepercayaan kita bahwa karena dengan adanya Allah pada tempat kita pulang, maka segala urusan di dunia ini adalah baik.

Thursday, October 10, 2019

[ Instagram Update ] 3 Juni 2017


Dalam sebuah hadits, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 
“Barangsiapa yang mencintai perjumpaan dengan Allâh maka Allâh mencintai perjumpaan dengannya.”
HR. al-Bukhâri (no. 6142) dan Muslim (no. 2683)

Monday, October 7, 2019

The Greatest Wealth is A Poverty of Desires

[ My Instagram Post on September 19th, 2017 ]


     As a child, I always be an introvert person. I remembered taking a lot of personality test and it showed all was ( and is ) introvert. I have a very personal and family issues that make me cannot open and become an extrovert. Let me give you some stories, why this quote hits me for the very first time I read and I still keep in my heart.

     Selama hampir 30 tahun menjalani hidup dengan banyak mendengar daripada berbicara, banyak sekali hal-hal yang saya analisa dari orang-orang yang pernah saya temui. Ada senang dan banyak sedihnya. Ya, kita paham manusia banyak yang mengecewakan, terutama pada zaman ini. Sebuah kesan saya dari mulai kecil hingga umur 25 tahun, saya merasa betul-betul kecewa dengan banyak orang. Saya merasa sebagai anak muda, sangat kurang orang dewasa yang bisa menjadi teladan dan contoh yang baik. That's why, saya lebih suka menyendiri di dalam kamar dan membaca buku. Banyak julukan yang dilemparkan kepada anak seperti saya karena saya sangat diam. Teman sebaya menjauhi dan orang dewasa mengatakan,"Cacat mental ya? Bisu ya?" dan julukan lainnya. Well, saya besar dengan memikirkan dan menjalaninya sendiri karena orang tua sibuk dengan pekerjaan dan masalah sendiri. Pulang sekolah full day persiapan dari pukul 5.30 pagi hingga sampai rumah pukul 5 sore, saya lanjut les mengaji. Pada kelas 6 SD saya mulai mengambil bimbingan belajar hingga saya lulus SMA. Jadi full belajar. Weekend les Bahasa Inggris dengan berbagai macam murid dengan usia dan background yang sangan variatif. Jadi bisa dikatakan, kontak dengan orang tua dan saudara sangatlah minim sekali. Bahkan memori saya seperti hilang sebelah mengenai masa kecil saya. Maka karakter diri terbentuklah menjadi pribadi yang tertutup dan jarang curhat.

     Entah bagaimana, saya punya kepekaan sendiri dalam memperhatikan seseorang. Kepekaan ini diikuti dengan kenyamanan atau ketidaknyamanan hati. Contoh mudahnya, seseorang yang saling mengirim sinyal mata. Baik itu dalam rangka naksir atau nge-prank. Ini bukan indigo ya karena saya sama sekali belum pernah lihat setan apalagi sampai bisa baca pikiran orang. Namun dengan banyak membaca buku terutama buku psikologi dan detektif, saya cepat tanggap terhadap sesuatu. Contoh, kita berbicara dengan orang dan saya melihat dia mulai berbohong atau tidak nyaman, saya bisa tangkap gerak-geriknya dan memberhentikan percakapan dengannya. Saya juga tidak ingin mendengarkan kebohongan lawan bicara. Baik itu white lies apalagi yang black lies. Rasanya otak dan hati ini tidak pernah lelah berpikir dan menganalisa sekitar. Sampai pada suatu titik, saya sudah lelah dengan semuanya.

     Rasa lelah ini sudah dari SMP saya alami. Tidak seperti remaja lainnya, sudah banyak hal terjadi di dalam keluarga saya yang menuntut saya tidak bisa se-enjoy anak seumuran saya. Padahal bisa dibilang saya adalah anak orang menengah ke atas. Namun saya tidak paham soal merk baju, kendaraan, hape, lawan jenis kece belece. Saya tahunya dan excitednya cuma sama buku. Happy banget kalau bisa beli episode terbaru atau baru launching. Dulu saya juga happy dengan crayon yang warna warni. Happy tiap sore beli bakso tusuk dan gorengan dengan saus dan kecap yang banyak. As simple as that.

     Pada zaman kuliah, saya sudah mengenal konsep ketenangan dalam hidup. Waktu itu menyimak beberapa sastrawan, budayawan dan website mengenai Zen habit yaitu hidup minimalis kalau bahasanya sekarang. Terbentur dari kepercayaan, saya hanya ambil yang sesuai dengan ajaran agama saya. It's funny how young lady already search for living quiet. Mungkin ini menunjukkan bagaimana stressnya saya. Sebenarnya bukan ke arah bagaimana stressnya saya, namun saya merasa sungguh sangat berbeda pemikiran dari kebanyakan orang seumuran. Ketika mulai mengelana di Ibukota, Jakarta, saya banyak melihat berbagai macam orang dan situasi. Kehidupan drastis yang saya jalani di ibukota betul-betul banyak memberikan pelajaran hidup yang sangat konkrit. Sepanjang saya melihat kehidupan saya dan kehidupan orang-orang di sekitar saya saat saya di Jakarta, saya betul-betul yakin bahwa happiness is not equal with richness. How it happened ?

     Saya besar di lingkungan menengah ke atas, bisa membeli mainan berupa barbie, mobil-mobilan, games etc. Pada saat SMA karena suatu hal yang tidak bisa saya utarakan, perekonomian keluarga menurun drastis. Alhamdulillah bisa dikatakan menengah, itu pun saya lihat ibu saya mati-matian kerja dari pagi sampai malam which is actually I'm not agreed on. Saya berharap hidup sederhana saja asal bisa saling dekat dalam satu keluarga. But, we have so much different prespectives about life. I respect her and I know how hard her life is. Turning point bahwa harta itu benar-benar tidak ada maknanya adalah saat saya resign dari Jakarta dan rehat sebentar dari pekerjaan untuk mencari sebuah jalan hidup yang benar. Saya merasakan dahulu saat setelah baligh saya tidak bahagia, tidak ceria dan cenderung judes. Padahal saya anak orang punya. Teman-teman saya banyak orang punya juga tapi saya tidak terkesan bahagia. Menginjak SMA saya memilih sekolah negeri, saya memiliki ketakutan berteman dengan orang berada dan gaul ( dikenal banyak siswa ). Seperti rasa yang tidak nyaman. Begitu pun saat kuliah di salah satu institut di Surabaya. Namun perasaan ini pastinya saya simpan sendiri.

     Memang betul ya, bekerja dengan keringat sendiri adalah salah satu cara membuat pikiran kita njejek ( fully grown ). Setiap hari saya mendengar pegawai bahkan bos dengan gaji 10 juta ke atas, masih mengeluh masalah harta. Tiap hari mengeluh macet lah, gaji kurang lah, sayur naik 500-1000 rupiah mereka mengeluh. Saya dalam hati heran kenapa bisa begitu. Padahal di Jakarta itu pengemis, gembel, pedagang kecil, anak jalanan banyak terlihat di jalanan sampai rasanya hati ini tidak cukup untuk menampung rasa simpati kepada mereka. Sedangkan saya berteman dengan rekan kerja yang gajinya bisa dibilang di bawah UMR dan kita jarang membahas kekurangan harta. Alhamdulillah Allah beri rekan kerja yang baik. Saya lihat rekan kerja saya meski dengan gaji segitu tidak pernah mengeluhkan masalah sekolah anaknya. Sampai terkadang terceletuk dari mulutnya,"Mereka itu kurang apa ya ?" ketika mendengar keluhan dari pegawai yang gajinya di atas UMR. Ya, saya waktu itu meringis saja.

     Setelah saya resign dan aktif di kegiatan sosial dan dakwah, saya juga tetap menemui hal yang sama. Heran juga. Padahal komunitas ini adalah kumpulan orang-orang yang mementingkan akhiratnya daripada dunianya. Maka hawa nafsu itu tidak melihat mana orang Islam, mana orang kafir, mana orang miskin, mana orang kaya, mana orang sudah ngaji, mana yang belum ngaji, mana yang bisa baca Al Qur'an mana yang tidak bisa baca. Banyak orang, entah itu dalam berbicara dan beramal, dan bahkan dalam menasehati perkara kebaikan pun mereka mengedepankan hawa nafsunya. Hal ini merusak kesempurnaan niat untuk beramal shalih. Hawa nafsu juga bisa merusak materi, fisik dan bathin seseorang, baik pelakunya atau objeknya.

     Kekayaan bisa dibagi dua, yaitu kekayaan lahir dan bathin. Kekayaan lahir berupa fisik, tenaga, harta, intelektualitas. Kekayaan bathin berupa pemahaman agama, psikologis, cara berpikir, dan kondisi spiritual. Kekayaan lahir dan bathin ini jika terpenuhi maka akan muncul kepuasan atau kecukupan. Orang yang tidak puas biasanya pasti memiliki kekurangan dalam lahir atau bathinnya. Bagi saya, jika seseorang sudah memiliki tempat tinggal ( dari tembok bata dan atap genteng ) dengan luasan yang cukup untuk beraktivitas sehari-hari, punya mobil 1 dengan mesin tahun 2000an, bisa makan 3x sehari, anak-anak bisa sekolah minimal tarif setara dengan sekolah negeri, maka itu sudah cukup. Tidak perlu menjatuhkan diri dengan mengatakan masih miskin. Padahal hisab mereka jauh lebih sedikit daripada orang yang memiliki rumah besar, mobil lebih dari satu dan seterusnya. Nah, apalagi mereka yang punya juga jangan selalu merasa kurang harta sehingga takut untuk bersedekah. Terkadang pula bukan harta yang membuat diri merasa kurang. Jabatan, kondisi anak, kondisi mertua, kondisi menantu dan lain-lain. Sebenarnya ini manusiawi jika hal ini disimpan sendiri atau jadi bahan diskusi keluarga, namun apabila keluar dari mulut kita dan membanding-bandingkan dengan orang lain meski itu orang-orang yang kita kenal, maka hal ini sungguh sangat menyakitkan hati. Pada permasalahan rejeki orang lain, kita tidak tahu apa saja yang Allah amanahi kepada mereka dan apa saja yang Allah sudah ambil ( kurangi ) dari mereka. Perkataan dan pemikiran yang tidak berguna seperti ini diakibatkan karena manusia lebih senang mengumpulkan dan mengkayakan hawa nafsunya. Maka dari ini kekayaan dengan diikuti kepuasan hati dan kecukupan materi bisa diraih hanya dengan kurangnya atau miskinnya hawa nafsu yang membelenggu diri kita.

     

Monday, February 11, 2019

Birrul Walidain

Berbuat baik kepada kedua orang tua. 

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا 
"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun
Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua."
[ Al Qur'an 4 : 36 ]



Berbuat baik kepada orang tua, bukan karena orang tua telah melahirkan, memelihara, memberikan materi, membesarkan kita, tetapi karena Allah yang memerintahkan. Ini yang namanya ibadah yang IKHLAS. Banyak orang salah mengartikan makna ikhlas. Ikhlas adalah makna yang sangat sakral. Ikhlas artinya melakukan sesuatu hanya karena Allah. Jadi goalnya adalah karena Allah. Bukan karena manusia atau keluarga atau diri sendiri. Semisal dilahirkan dari orang tua yang tidak baik, tetap ibadah kita yaitu memenuhi hak birrul walidain kepada mereka. Suka tidak suka, karena Allah yang memerintahkan.


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan 
supaya mereka beribadah kepada-Ku."
[ Al Qur'an 51 : 56 ]


وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan 
'memurnikan ketaatankepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus."
[ Al Qur'an 98 : 5 ]



[ Catatan Kajian Tafsir Ibnu Katsir oleh Ustadz Umar Fauzi Baladraf hafidzahullah / 2 Agustus 2017 ]

*eye opening, barakallahu fiik yaa Ustadz*
#selfreminder #beginilah-adab-islam-memuliakan-orang-tua

[ Instagram Highlight ] 20 Oktober 2018


Wednesday, February 6, 2019

[ Instagram Update ] 30 Juli 2017


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ (أخيه) الْمُؤْمِنِ

Seorang mukmin cerminan dari saudaranya yang mukmin [1]

Allah Azza wa Jalla menciptakan ruh dan menciptakan sifat-sifat khusus untuk ruh tersebut. Di antara sifat ruh (jiwa) adalah dia tidak mau berkumpul dan bergaul dengan selain jenisnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan hakekat ini dengan bersabda:

الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

Ruh-ruh itu bagaikan pasukan yang berkumpul (berkelompok). (Oleh karena itu), jika mereka saling mengenal maka mereka akan bersatu, dan jika saling tidak mengenal maka akan berbeda (berpisah) [2]

Memilih teman yang baik adalah sesuatu yang tak bisa dianggap remeh. Karena itu, Islam mengajarkan agar kita tak salah dalam memilihnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman [3]

_________________________________________________________________
Footnote :
[1]. HR al-Bukhâri (al-Adabul -Mufrad no. 239) dan Abu Dâwud no. 4918 (ash-Shahîhah no. 926)
[2]. HR al-Bukhâri no. 3336 dan Muslim no. 6708
[3]. HR Abu Dâwud no. 4833 dan at-Tirmidzi no. 2378. (ash-Shahîhah no. 927)

Sumber: https://almanhaj.or.id/3480-teman-bergaul-cerminan-diri-anda.html

Friday, January 25, 2019

Aliran Rasa #1 : A Long Live Learner


Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu. [33:21]
( sumber : almanhaj.or.id ) 


Berawal dari keinginan untuk kembali ke fitrah, berhijrah kembali memahami agama yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Berhijrah kembali kepada Allah. Kemudian saya mendapat info tentang HSI ( Halaqah Silsilah Ilmiyah ) oleh ustadz Abdullah Roy hafidzahullah. Bi idznillah, mencobalah saya untuk menjadi thalibah di sana. Masya Allah, saya tercengang-cengang dan mengangguk-angguk hebat. Mendengarkan materi HSI pertama kali, saya merasakan 'akhirnya-pulang-ke-rumah-yang-saya-tinggali-setelah-kebingungan-mencari-cari-jalan-pulang'. Selama hidup ini, saya merasa seperti salah masuk kampung halaman. Dengan menuntut ilmu syar'i ini, membuat saya seperti diarahkan oleh "guru" yang tepat saat berhijrah dari kampung yang asing itu. 


Materi yang sangat berkesan bagi saya adalah materi ADAB. Ternyata mempelajari adab sebelum mempelajari suatu ilmu adalah metode yang telah diajarakan para ulama-ulama terdahulu. Maka dengan mengikuti HSI ini, standard menuntut ilmu saya semakin tinggi, yaitu ... saya harus mengikuti pembelajaran yang mendahulukan adab. Dan itu menjadi harga mati bagi saya. Saya merasakan pentingnya ADAB seiring menuntut ilmu dan saya mengalami sendiri, apa yang ADAB bawa kepada para penuntut ilmu dalam menerima dan mengamalkan ilmunya. 


Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy,
تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم
“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Sebagaimana Yusuf bin Al Husain berkata,
بالأدب تفهم العلم
“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”
( sumber : muslim.or.id ) 


Beberapa bulan setelah mengikuti HSI, saya tergerak untuk bertamu ke rumah sahabat saya. Seorang lulusan psikologi yang menjadi terapis bagi anak-anak tuna rungu. Saya banyak bertukar pikiran dengan dia masalah internal, khususnya masalah keluarga. Di pertemuan terakhir kalinya, dia merekomendasikan Institut Ibu Profesional ( IIP ) dan sedikit menjabarkan, karena saat itu saya juga membahas HSI dan menggebu-gebu bahagia menceritakan bagaimana belajar dengan memulainya belajar adab. Sebuah lingkungan belajar baru yang saya temukan di luar metode kajian manhaj salaf, yang membuat saya tenang. Kemudian dia menunjukkan handnote IIP. Saya scanning sebentar saja karena tidak terlalu tertarik belajar parenting. Kemudian mata saya tertuju pada halaman depan yang menjelaskan soal adab. Seketika saya jatuh cinta. Lalu teman saya mengatakan, "Perlu banget ikut ini, saya banyak belajar hal baru. Dan malah lebih bagus lagi sebagai persiapan nantinya ketika menjadi istri. Ini wajib pokoknya kamu harus ikut !!!" Hahaha...


Dan alhamdulillah, setelah open registration, saya bisa diterima di Kelas Foundation dan lulus ke Kelas Matrikulasi. Membaca semua materi kelas Foundation, saya menemukan banyak hal baru yang saya belum pernah ketahui. Hal-hal yang wajib saya catat dan amalkan. Saya bersyukur, mengikuti IIP ini ternyata membantu saya menggapai cita-cita saya yaitu, berbagi ilmu ke seluruh masyarakat dari rumah, karena sebaik-baiknya wanita tempatnya adalah di rumah.


Disebutkan dalam hadits dari ‘Abdullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْمَرْأَةَ عَوْرَةٌ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِهَا اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ فَتَقُولُ: مَا رَآنِي أَحَدٌ إِلا أَعْجَبْتُهُ، وَأَقْرَبُ مَا تَكُونُ إِلَى اللَّهِ إِذَا كَانَتْ فِي قَعْرِ بَيْتِهَا

“Sesungguhnya perempuan itu aurat. Jika dia keluar rumah maka setan menyambutnya. Keadaan perempuan yang paling dekat dengan Allah adalah ketika dia berada di dalam rumahnya.” 
[ HR. Ibnu Khuzaimah no. 1685 dan Tirmidzi no. 1173 dishahihkan oleh Syaikh Al Albani ]
( sumber : rumaysho )

Dan di akhir tulisan ini, saya ingin mencantumkan aliran rasa dari dalam hati setelah mengikuti rangkaian pembelajaran dari awal hingga Studium Generale kemarin malam, sepatah kata yang sangat singkat namun mewakili kesan saya terhadap kelas-kelas di Institut Ibu Profesional ini :
"Memahami bahwa dunia adalah tempat berjuang bagi manusia untuk meraih kenikmatan dan ketenangan. Dan dalam keadaan ini, kita tidak pernah sendirian. Ada Allah dan para makhlukNya, yang dengan izinNya, memberikan energi positif untuk mengamalkan sebuah kebaikan."

#SitiDewi_MatrikulasiSbyRaya2 #Pretest_Matrikulasi #IbuProfesional_SurabayaRaya2

Sunday, October 21, 2018

[ Instagram Update ] 20 January 2016

source : ig al_fawaid_

So what does a woman desire, whether it is her worldly affairs or her Hereafter, when she displays herself, when she reveals her beauty, when she intermingles with men, and when she purposely tries to put them to trial and get their attention. 

What good does she desire with these types of actions, and what type of virtue does she hope for?! 
Certainly, it is, by Allah a tremendous loss, major evil, and widespread trial.

As for the intelligent woman, for indeed, she is far removed from these type of actions, fearful of Allah - the Lord of the creation the owner of majesty and completeness - diligent in the obedience of her Lord and attaining His pleasure. 

• A Piece of Advice & Admonition for the Women by Shaykh 'Abd al-Razzaq Ibn 'Abd al-Muhsin al-Abbad.


Thursday, July 28, 2016

[ Instagram Update ] 37 weeks ago


My goal, my goal, my goal  ❤

I've had experience those babies' reaction and indeed the more I believe that Al Qur'an was 100% from Allah.

"Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah." [QS. 39 : 23]

Allah has sent down the best statement: a consistent Book wherein is reiteration. The skins shiver therefrom of those who fear their Lord; then their skins and their hearts relax at the remembrance of Allah." [QS. 39 : 23]

Tuesday, July 26, 2016

[ Instagram Update ] 15 weeks ago


  • Malam ini, sekitar pukul 11 malam hamba meminta dalam hati, mohon dibangunkan dari tidur untuk shalat malam. Hamba memaksa untuk dibangunkan karena hamba benar-benar menginginkan berdo'a malam ini, setelah kejadian setelah maghrib tadi. 

    Hamba bangun. Tepatnya terbangun dari mimpi yang buruk. Pukul 2 pagi. Hamba berusaha sholat dan berdo'a. Di tengah - tengah ku mengeluh atas semua ketidakwajaran hidup yang aku lalui, ketidakmanusiawian hidup yang kedua anak kecil itu jalani, sesuatu seperti menyambar qalbuku dengan cepat. Seperti hentakan yang dahsyat, membuat jantungku sempat berhenti sejenak.

    Bahwa semua keburukan dan kesusahan yang kita jalani, baik terjadi secara langsung maupun sebagai pihak ketiga yang ikut merasakan, semua adalah kehendak Allah. Kehendak-Mu. Dengan segala ego menginginkan yang terbaik menurut agama dan ilmu dunia, hanya Allahlah yang mampu mengijinkan semua keburukan ini terjadi terhadap kita. Dan hanyalah keikhlasan dan kerendahhatian sebagai seorang berlevel hamba, kita harus menerima semua ketetapanNya dengan ikhlas. Selayaknya kita perlu meredam ego dan kesombongan kita dalam berdo'a dan menginginkan sesuatu yang baik, karena semuanya kembali kepada Allah. Subhanallah, Maha Suci Allah. 


    فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعْ مِنْهُمْ آثِمًا أَوْ كَفُورًا

    Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antar mereka. [ QS. 76 : 24 ]

    فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوتِ إِذْ نَادَىٰ وَهُوَ مَكْظُومٌ

    Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya). [ QS. 68 : 48 ]

Saturday, August 9, 2014

Start A Healthy Life by Being Simple

“Simplicity boils down to two steps: Identify the essential. Eliminate the rest.”
-Leo Baubata

Simple and humble is a rare adjective today. Rare manner.

Saya sering menengok ke belakang ( masa lalu ) untuk melakukan introspeksi diri dan kemudian menyesali beberapa dan bahkan banyak hal terutama mengenai gaya hidup. Selama ini term, "money can buy a happiness" is true. Atau bahkan sekarang "high value-high quality-high price item or gadget can buy a happiness and pride too." adalah hal maklum yang tersebar di social media. Contohnya, mulai dari gadget, kamera, produk kecantikan dan perawatan, fashion items, etc. yang harganya unbelievable dengan a good quality. A good or best quality for me is kinda an excuse for some people to buy something which is actually not needed. Benar, tidak ? Well, I am one of them actually. I'm judging because I experienced them. Dari sini, saya mulai introspeksi segala hal yang saya punya dan yang sudah saya lakukan. Lebih-lebih lagi, saya termotivasi karena dari dulu saya selalu follow blog-blog mengenai living a simple life, find true happiness inside you, pokoknya bagi saya, mereka itu englightenment dan perlu dicontoh. Dalam agama saya ( Islam ), jelas dikatakan dalam kitab suci Al Qur'an untuk tidak bermegah-megahan. Meskipun kata megah itu sama seperti tampan atau cantik, yaitu Relatif. Saya yakin pasti semua orang yang memiliki landasan moral atau agama dalam hati kecilnya ingin sekali untuk hidup tidak dituntut kemewahan. Apalagi apabila hidup di negara yang begitu banyak fakir miskin dan dhuafa yang terlihat mata, contohnya Indonesia.

So, at a sudden point, as I want to get closer to god, Allah subhana wa ta'ala, I want to start a simple and healthy life.
  1. Eliminate friends. Kinda scary isn't it ? Haha ... buat introvert and self sufficient seperti diriku hal ini tidak terlalu susah. Memang harus tega. Terutama terhadap teman yang oportunis dan (maaf!) doyan mengeluh dan menyebarkan aib. Atau mungkin bahkan kitanya yang oportunis makanya selalu tidak 'tega'. Seperti kalimat :"Nanti suatu saat kita butuh bagaimana ? Suatu saat dia satu-satunya jalan untuk membantu kita bagaimana?". Bagi saya, jika itu teman berharga untuk dikeep berarti dia punya attitude bagus, jadi tanpa dimintapun bakal bantu. Excuse takut kehilangan teman hanyalah untuk tipe yang memang doyan nongkrong dan eksis. Berteman sewajarnya saja. Bertemanlah dengan orang-orang positif yang membantu kita untuk lebih dekat lagi dengan tuhan dan cita-cita. Jangan pernah buang waktu untuk urusan dan excuse sepele.
  2. Use social media wisely. Dalam dua tahun ini saya hapus 4 social media terhits : Twitter, Path, Whatssap, dan lately Instagram. Semua akun personal saya. Jadi sekarang saya pakai BBM dan Line. Kenapa saya masih mempertahankan hal ini ? Karena saya toleransi sama teman-teman yang tidak mau modal untuk menghubungi saya. Ah ya, Facebook kalo bisa dihapus sih mau banget ya. Jarang dipakai. Hanya chat dengan sahabat saya di Jepang. Dan media kirim undangan nikah ( hemat ).
  3. Good habit. Mulai dari eating habit, skin treatment, exercise, spare time, sampai sleeping habit.
  4. Use your money wisely. Instead of buy unnecessary things, travel for religious trip, travel to taste nature and heal your greedy soul. Get your calmness back to yourself.
  5. This is the most important things for me. Dekatkan diri ke tuhan. Feel what George Horrison feels. Dengan mendekatkan diri kepada tuhan, maka sama dengan mendekatkan diri ke aku. Ciptaan-Nya. Lakukan secara istiqomah, konstan dan terus menerus, maka dirimu akan memahami dirimu sendiri. Setelah kau memahaminya maka kau akan bisa memahami orang lain dan apa-apa yang sedang terjadi di sekitarmu secara bijak. Tidak akan ada waktu dan barang yang sia-sia terbuang karena kita akan memiliki prinsip bahwa segala sesuatu yang kita miliki dan lakukan, semuanya dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.
Saya belum 100% dengan sempurna mengamalkan 5 point tersebut. Saya masih belajar dan perlu belajar banyak. Semoga tulisan yang terpublish ini akan selalu menjadi pengingat akan goal saya sendiri sebagai makhluk Allah. 

Saturday, June 25, 2011

How Poor We Are ...


One day a father of a very wealthy family took his son on a trip to the country with the firm purpose of showing his son how poor people live.
They spent a couple of days and nights on the farm of what would be considered a very poor family. On their return from the trip, the father asked his son, “How was the trip?”
“It was great, Dad”.
“Did you see how poor people live?” the father asked.
“Oh yes”, said the son.
“So, tell me, what did you learn from the trip?” asked the father.

The son answered:
“I saw that we have one dog and they had four.
“We have a pool that reaches to the middle of the garden and they have a creek that has no end.
“Our patio reaches to the front yard and they have the whole horizon.
“We have imported lanterns in our garden and they have the stars at night.
“We have a small piece of land to live on and they have fields that go beyond our sight.
“We have walls around our property to protect us, they have friends to protect them.”
“We buy our food, but they grow theirs.

The boy’s father was speechless. Then his son added:
“Thanks, Dad for showing me how poor we are.”


Source : Paulo Coelho