Thursday, June 25, 2026

Mengingat Masa Resign 10 Tahun Lalu

 Aaah...aku nahan nangis, nih.

Aku baru ingat, aku belum pernah memproses rasa sedihku ketika resign (terpaksa) dulu.


Aku tertipu!!!

Aku dibentak durhaka karena ibuku jatuh sakit. Katanya jantung. Ternyata baru tahu itu pasang ring. Maksudku itu memang sangat tidak nyaman, tapi bukan berarti urgensinya seperti bypass jantung.


Lucu, tahu gak siapa yang bikin aku termanipulasi sampai aku memilih resign?

Tanteku! Which is adeknya Mamaku.

I feel ssoooooo stupiiiiiiid.


Dan sampai sekarang aku masih ingin kembali ke Jakarta.

Bayangin mimpiku terkubur 10 tahun di Surabaya.

Sampai yang tadinya kota aku cintai, sekarang eneg dikit banyak, lah!


Karena aku lagi rajin optimasi profil LinkedInku, aku kembali menelusuri file-file lawas.

Gak sengaja, ketemulah sebuah lembar exit interview.

Aduuuuuuuuh, aku langsung nangiiiiis sambil kayak ngambek mencak-mencak gitu.

Lelah banget punya mimpi tapi keluarga selalu menjadi penghalang.


Sore ini, aku merilis rasa sedih yang aku tahan 11 tahun lalu. Pelan-pelan.

Aku sadar, aku gak pernah melampiaskan sepenuhnya karena ketika muda dulu, aku belum paham ini apa.

Maklum ya, kayaknya aku ini PTSD, deh! Jadinya, suka lupa ingatan dan lupa merasa tepatnya.

Aku juga baru saja menyadari di pekan lalu, kenapa mimpiku gak pernah terbang lancar.

Ternyata ini semua bukan karena tidak ada support keluarga, justru malahan karena setiap ingin terbang, sayapku selalu dipotong oleh mereka. 

Sayangnya, selama ini aku gak pernah menoleh ke samping kanan kiri dan belakang ketika hendak terbang. Jadinya, aku pikir,"Oooh...Allah gak ngeizinin aku terbang ya. Mungkin ada cuaca buruk di atas sana, makanya Allah tidak mengizinkan aku terbang."


Haaaaaaaaaaaaaaaaahhh...ternyata itu hanyalah toxic positivity yaaa biar masih dikira rumahku surgaku.


Ya udah sekian. Tadi belum nangis tapi udah mewek ngambek gitu. Weeeww...gak kebayang nanti suamiku bakal lihat aku ngambek kayak anak kecil gak keturutan pergi ke tempat ice skating. Hahahaha. Waras yaa, Mas Suami. Hahahahhaa. Karena istrimu ini maybe PTSD and of course ADHD.


What a combooo!!! See you next yapping.


NB. Ternyata selama ini yang bikin aku kacau adalah ibuku yang dimanipulasi sodara-sodara kandungnya semua. I guess karena ibuku berkarir tinggi tapi gak emotionally independent. Jadinya hal kecil tanya ke saudaranya dan which is jawabannya sangat lame dan parah. Alhamdulillah tahun ini ibuku sudah cut off saudara toxicnya (belum semua). Itupun karena aku  udah bilang ke ibuku kalau saudara-saudaranya gila dan tidak punya sopan santun.

Monday, June 8, 2026

Jurnal Buat Psikolog 08/06/26

Sore ini agak aneh.

Sebenarnya aman-aman saja seharian karena aku lagi rapiin project management aku untuk satu bulan ini. Serunya, lagi tokcer banget, lho! 

Seharian ini berasa enteng banget.

Sampai di sore hari setelah aku ambil wudhu buat Sholat Ashar jam 4 sore tadi.

Tiba-tiba aku seperti terkena panic dan anxiety attack.

Badan meriang, kepala nyut-nyutan dan perut seperti diserang tawon daripada kupu-kupu.

Aku mendadak mual dan sediiiiiiiih sekali di bagian dada. Ada rasa deg-degan yang tidak nyaman.


Setelah aku review kenapa...

Aku pun tidak tahu. Tapi, aku sempat posting ini di Threads.


Aku sih tidak merasa sedih ya. Tapi lumayan tertegun karena bingung mengisi quiz ini. Awalnya kan kuis buat ngisi seberapa jauh pengetahuanmu tentang fundamental AI. Cuman ternyata survey pertanyaan 1 itu. Aku mau nanya di grup udah males. Kalau yatim gimana ngisi angkanya. Aneh beut, dah! Dan aku sewaktu ngisi ini gak apa-apa, santai saja. 


Aku coba tela'ah apakah karena makanan dan minumanku hari ini?

Coba aku presensi: pagi kuah kikil sapi, ek kopi susu latte low sugar 2 gelas habis sebelum pukul 2 siang, donat kentang dengan topping glaze coconut milky (less sugar karena bikin sendiri). Dehidrasi juga tidak.

Padahal aku lagi santai dan bersyukur banget lho sebelum kondisi ini menyerang. Akhirnya aku sensitif dan merasa terganggu dengan suara-suara apapun. Dan sampai menjelang maghrib ini, aku masih diliputi kesedihan yang entah dari mana. Ini reaksinya intense banget dan aku menahan nangis, perut kram, dan sakit di dada. Bahkan aku sampai melantunkan dzikir sore pun masih ada.

Aaah, akhirnya aku ingat bahwa psikologku mengirim jurnal kosong dengan beberapa prompt. Baiklah, agar aku tidak lupa lebih baik aku tulis di sini. Blog adalah memori kesedihan yang tepat. Asyeeek!

Entah apa ini namanya. Apa trauma response? Atau kesedihan yang delay? Atau ada orang-orang yang sedih membaca utasku? Cuma 20an orang. Aku HSP ya (menurutku). Kayaknya aku merasakan energi kesedihan orang-orang yang membaca utasku. Cenanyang mode on.

Baik, pembaca budiman dan budiwoman, mungkin dengan ngetik di sini selain lupa, aku bisa regulasi emosi tak nampak tak bernama ini. Kalau kamu pernah mengalami hal yang sama, komen dong! Ini apa ya? 

Selamat petang dan berbahagialah selalu dunia dan akhirat!

Thursday, June 4, 2026

2026 Mulai Blogging sebagai ADHD Dewasa

2026 ini aku melakukan screening test ADHD Dewasa. Surprisingly, tidak mengejutkan sama sekali. Hasilnya ADHD Dewasa Inattentive. Kalau kamu lihat perempuan remaja pendiam yang kepalanya berisik sementara bukunya sulit dibaca bahkan orang dewasa, kemungkinan dia termasuk golongan neurodivergen yaitu salah satunya ADHD. 

Lucunya, ADHD itu gak melulu terlihat anak-anak ceria yang hiperaktif dan berantakan. ADHD bisa old soul yang terjerat di tubuh remaja. Oh, maksud aku ADHD penuh luka karena lahir di keluarga disfungsi seperti aku. Bacaan remaja ADHD dengan IQ di atas rata-rata mungkin saja Haruki Murakami, Paulo Coelho, terkadang Djenar Maesa Ayu, Dewi Lestari, dan komik jenaka seperti Kungfu Komang.

Otak ADHD itu paradoks, apalagi kelakuannya. Hahaha.. Aku pernah bertanya kepada teman-teman ADHD terutama yang cowok.

"Kalian tuh hyperseksual terus suka gonta ganti pasangan ya?"

"I mean impulsif dalam aktivitas seksual."

Kata mereka,"Iya lagi, makanya hubungan pernikahanku berantakan."

Lalu aku tanya lagi,"Ada gak hal yang bikin kamu bisa nge-rem? I mean, kepengen icip perempuan sana-sini kan "dark traits" ya."

Lalu dia jawab,"Ya, aku lihat anakku sih. Dan juga gak aku pungkiri agama jadi rem. Kepercayaan Tuhan Maha Melihat kita semua bikin aku mikir dua kali kalau mau ngelakuin dosa."

Kalau dipikir-pikir bener juga. Selain norma sosial dan moral dalam bermasyarakat, norma agama penting banget buat ADHD yang otaknya unlimited ambil source. Jujur, AI kalah, deh kalau soal sedot menyedot data. Ini udah another level Cloud Storage-nya Allah yang ciptakan.

Aku juga kalau tanpa mengimplementasikan agama, bakalan jablay sama cowok manapun. Siapa yang mau dan bisa kasih aku rasa sayang dan kasihan. Hayoooook! 

Alhamdulillah, Allah menyelamatkanku dari kebodohan dan impulsif karena syahwat. Namun sayang, seperti halnya penyintas KS lain, saking menjaga dirinya aku, tidak ada kondisi pertengahan. Aku memilih punya pasangan atau tidak sama sekali. Selama 35 tahun ini aku pilih tidak berpasangan. Simply, aku takut addict dan bablas karena aku belum punya filter bagus saat mulai anxious ter-attach dengan lawan jenis.

Another alhamdulillah. Tahun ini di usia 36 tahun, aku mulai menemukan akar masalah trauma aku. Sekarang aku bisa sangat jelas punya parameter dalam memilih dan menetapkan guideline buat calon pasanganku. Rasanya aku siap menikah di tahun 2026 ini dengan lelaki impianku. Ahaaaaay...siapakah dia? Wallahu a'lam. 

Allahumma inni as aluka lelaki kaya lahir bathin dan bijak dalam urusan dunia wal akhirat. Aku dapat keluarga wajar betulan healthy realationship dari pihak suami nanti. I wish when yaa...

Thursday, September 25, 2025

Cerita Gadis 30an di Keluarga Disfungsi part-1

It's been years, gak update sama sekali di blog ini. Simply because I forgot my password.
Sayangnya, hidupku masih "stuck" tapi sudah di fase "awakening". Dan sayangnya, financially rodo melarat sitik. Hahaha...Bayangin ya, tabunganku itu dua digit, alias belasan ribu. Hahahha. Alhamdulillah gak ada harta haram di situ.

Jadi, tahun ini aku test kepribadian untuk menemukan karir yang tepat buat aku apa. Surprisingly, lha kok aku jadi ekstrovert? Mungkin karena aku mulai berani share soal kehidupan ini dan coba menjadi content creator.

Nah, karena perubahan kepribadian ini, aku lebih luwes dalam menceritakan problematika kehidupanku. Daripada aku oversharing di tempat yang gak tepat dan cuma bisa diakses 24 hours, jadi mending aku bakalan super oversharing di blog ini. Sebagai apa? Sebagai journaling dan latihan critical thinking terhadap apapun yang terjadi di hidupku dan di isi pikiranku.

Aku mau cerita gak enak. Dan seterusnya bakalan ada cerita gak enak. Karena ini wadah sharing personalku. This is my flaws. Kalau ada yang ngomong,"Hidup lo sempurna! Enak lu cukup bersyukur aja." atau gaslighting sejenisnya...They can access my half mind di sini. Kalau hidupku gak sesempurna kelihatannya.

Oke. Hari ini, aku menegur Pamanku karena aku udah curiga sebenarnya selama berminggu-minggu ini. Kok air sering kedengeran mengalir? Aku pikir ada orang mandi di sana. Tapi ini terlalu sunyi tanpa cebar cebur. Akhirnya aku gak ngecek ke area kamar Pamanku dan anak cowoknya. Yaa...simple karena mereka cowok ya. aku takut kalau pas lagi kencing gak ditutup atau gimana gitu.

Sampai-sampai, awal bulan ini ada tagihan air kok membengkaknya tidak seperti biasa. Biasanya bengkak 10-20ribu saja. Ini kok 50-100rb? Curiga nih. Dan benar saja, hari ini aku coba langsung tengok dan taraaa....mengalir begitu saja airnya. Orang-orang di sekitarnya main hape dan duduk doang.

Aku tegur dong,"Airnya kalau udah penuh langsung matiin. Tagihannya naik drastis. Kalau kamu gitu lagi, aku suruh kamu ganti." Pamanku menjawab, "Oh, iya!" dengan santai tanpa rasa bersalah. Kemudian aku jalan menuju kamarku dan mendengar mereka tertawa mengejek. Aku sudah biasa. Tapi, inilah pola komunikasi keluarga Ibuku yang sangat disfungsional dan toxic. Ketika ada anggota keluarga protes karena kesalahan dan keteledoran yang berulang kali oleh mereka, maka akan jadi bahan bercandaan dan gunjingan selama terus menerus. Ya, akulah orang tersebut yang dari aku remaja jadi bahan gunjingan dan hinaan mereka.

Aku ingat kejadian remaja apa saja yang mereka lakukan padaku. Namun, gak semua aku ingat detail. Ini akan aku coba tulis di postingan entah kapan. Hahaha...energi cukup gede ya untuk nulis hal ini.

Balik maning ke kejadian tadi. Aku ternyata punya response menggigil, gemetar setelah menegur pamanku. Pamanku ini gak pernah kerja yang literally kerja. Tapi hidupnya petentang petenteng banget. Manusia pemalas ini, total mungkin belasan atau puluhan tahun tinggal di rumah ini. Nah, manusia ini dan sejenisnya...akan aku share cerita agak detailnya di postingan yang akan mendatang, which is I don't know when. Response menggigil ini, akhirnya aku definisikan sebagai response karena bertemu stressor. Stressor yang tidak berubah dari dulu sampai sekarang. Ya, aku menjadikan momen ini penemuan untuk shadow work yang lagi aku lakukan.

Jadi, sekarang aku secara sadar seutuhnya mengenali siapa saja stressorku. Beberapa tingkah Ibuku, beberapa response Masku, Pamanku sekeluarga, dan Tanteku yang di Jember. Ini adalah orang-orang perusak kedamaian dan ketenangan. Juga, mereka mengompori saudara-saudara lain untuk ribut. Yang lucu adalah, mereka ini dari aku remaja, suka banget menjadikan keponakan-keponakannya itu target "bully" untuk obrolan mereka sendiri. That's sick!!! 

Oke, cukup cuitan hari ini karena I need mental rest from mentioning them. Uneg-uneg hari ini I'm done!