Tuesday, February 8, 2022

WATCH WHAT YOU EAT DURING PANDEMIC



Sebagian orang sebelum datangnya pagebluk sudah mampu menyadari pentingnya menata asupan nutrisi kita. Sebagian lain belum. Terlebih lagi bagi kita yang ngekos dengan fasilitas terbatas maupun sekadar numpang di rumah orang yang kita tidak punya kuasa mengatur menu makanan sehari-hari. Pas hari ini saya pesan salad sayur ke teman saya, saya sekalian mau cerita sedikit soal pilihan saya untuk mengkonsumsi sayuran lebih banyak dari sebelumnya.


Sebelum tahun 2012, saya makan banyak protein hewani dan nasi putih daripada sayur. Bahkan saya kurang kenal berbagai macam jenis masakan sayuran karena keluarga memang kurang suka dan hampir tidak suka sayur apalagi salad mentah. Namun, saya mendapat kesempatan bekerja di luar kota, yaitu tepatnya Jakarta. Pada masa ini, saya sudah sering memperhatikan gaya hidup vegan dan vegetarian. Tapi hanya sekedar membaca blog dan resep resep. 

Dulu, gaji lumayan untuk bisa sesekali beli bahan organik dan aneka plant based food. Nah yang mencolok bagi saya pada saat itu adalah snack dari @trfhomemade dan @burgreens . Sepertinya dulu mereka masih pop up di event-event dan pesanan online. Saya termasuk supporter para local brand, jadi mencoba hal baru dari artisan Indonesia adalah hal lumrah bagi saya. Akhirnya saya beli carrot cake, pie, dan beberapa selai kacang yang raw. Surprise ya, enak semua. Dan taste-nya fits mine.

Akhirnya saya mulai membuka diri untuk menambah menu menu makanan yang berbahan selain protein hewani dan karbo nasi. Snack MSG pun saya batasi dan lebih konsumsi umbi-umbian, ganti juga nasi dengan beras merah. Saya juga pernah diet lupa namanya pokoknya tanpa garam gitu. Hahaa...what a life ya. Nah, ini cerita waktu masih sehat dan saldo juga subur ya.

Then I comeback to hometown, saldo menipis dan gak tau kenapa semakin hari semakin banyak alergi makanannya. Nah dulu di Jakarta sempet periksa alergi di klinik alergi asma dan memang sudah banyak alerginya, tapi saat itu alerginya tidak keluar. Stamina pun bagus. Mungkin faktor usia juga ya jadi kondisi usus makin sensitif. Akhirnya protein hewani yang bisa aku konsumsi hanyalah lele, mujair dan sesekali daging merah.


--------------------------888--------------------------




Bismillah... Saya ngetik paragraf awal-awal ini di tanggal 31 Januari 2021. Namun, waktu begitu cepat berlalu ya. Subhanallah...masa pandemi pun masih ada kita rasakan hingga menginjak 2022. Alhamdulillah 'alaa kulli haal. Saya ceritakan juga bahwa kondisi kesehatan saya sepertinya semakin memburuk. Kenapa ? Baik mental health dan physical health menurun drastis. Saya terkena (mungkin) panic attack, atau anxiety attack yang agak mengkhawatirkan. Saya butuh waktu yang lama dan pengkondisian untuk tidur. Ternyata meski ngantuk dan capek berat, serangan panik ini bisa saja datang ya. Fisik pun nyerinya tak tertahankan, dan kondisi perut sering kembung, membesar dan keras, susah BAB dan bahkan yaa lain-lainnya. Padahal usia saya lagi blooming ya...tapi qodarullah justru di usia blooming ini saya malah terkena banyak penyakit. 

Akibat penyakit-penyakit yang saya derita, akhirnya saya minum obat herbal dan ganti pola makan secara ketat. Masih bertaut dengan empon-empon dan wild foraging. Pantang dengan segala alergen, menghindari total goreng-gorengan, meminimalisir bakar-bakaran dan fokus di rebus atau kukus. Nasi putih dikurangi banget karena lagi ngurangin gula juga. Perbanyak sayur mentah, buah dan air putih buat detoksifikasi. Saya memilih ini bukan karena anti pengobatan modern ya, tapi memang lagi banyak pengeluaran untuk hal yang lebih penting, dan menurut saya kesehatan masih nomor ke sekian. Semoga Allah mudahkan. Saya juga nabung banget karena ingin dirawat oleh dokter terbaik di sini yang informatif dan rapi pengobatannya. Semoga Allah kabulkan. Semoga Allah sehatkan kami sekeluarga dan kalian juga. 

InsyaAllah pola makan yang saya sebutkan tadi bener-bener bisa cepet menghilangkan lemak, menurunkan berat badan, dan mengurangi nyeri di badan. Plus, olahraga rutin pagi dan sore jalan kaki cepat selama 20 menit dan naik turun tangga 10 menit cukup untuk menjaga kesehatan. Olahraga dan makanan yang baik itu bisa bikin pikiran dan hati kita lebih positif. Banyak dzikir dan doa ini yang utama, karena kalau lagi sakit...pasukan syaithon galau baper putus asa suka ngumpul menghembuskan angin dan hawa mendung suram di atas kepalamu dan hatimu. Jadi, kembalikan kesedihan itu kepada Yang Maha Membolak Balikkan Hati. Semoga kita bahagia selalu atas segala takdirNya. Menerima apa yang telah menjadi jalan dan mengharapkan pahala dari keikhlasan ini.

Barakallahu fiikum.

Monday, June 28, 2021

MANUSIA MAKHLUK MULIA


Abdullah Ibnu Al Mubarok pernah ditanya,
"Kapankah manusia layak disebut manusia ( makhluk yang mulia ) ?"
Beliau menjawab,
"Di saat ia mengenal Allah dan membuktikan hal tersebut sepanjang hidupnya."
-Ustadz Djazuli hafidzahullahu ta'ala-

Foto adalah senja tahun lalu. 
Saya mencoba cari jalan untuk bisa tetap mendapatkan terapi dan rehat sejenak dari lelahnya menghadapi keluarga ini. Salah satunya adalah saya mulai menghidupkan balkon rumah kosong menjadi kebun mungil sayur. Balkon ini menghadap barat di mana senja tenggelam. Saya rutin pagi dan sore ke kebun mungil ini demi terapi dan hidup sehat lahir bathin. Sebenarnya terapi saya itu ya kajian rutin di masjid, namun Allah masih ingin cerita lain. 

Semoga Rabbku mengangkat wabah penyakit ini, yang menyiksa hambaNya dengan memberi hikmah yang begitu banyak. Jadikan hamba seseorang yang tidak mudah mengeluh atas takdirMu. Aamiin.

Tetap jalani prokes dengan ikhlas demi taat kepada Allah dan ulil amri. Demi ibadah kita.

Saya bagikan potongan senja yang mungkin kalian ingin punya.

Tuesday, May 25, 2021

Pertama Kali Tatap Muka

Bismillah, hari ini saya ingin sedikit cerita, flashback saat pertama kali teman pengajian di masjid Al Falah mengajak ke kajian rutin membahas kitab insyaAllah pertengahan tahun 2016, 

"Ayo, mau ta kamu ikut pengajian isinya orang cadaran ? Ini pengajiannya berat, sangar-sangar... Biasanya pinjem rumahku soalnya masjidnya atapnya runtuh masih dalam perbaikan."

"Bahasan apa ?"

"Apa ya ? Lupa soalnya ganti judul nih. Nanti aku kirim jadwalnya."

Kemudian saya dikirimi sebuah jadwal/poster sederhana. Simple aja. Lawas banget lah designnya.

Aku membaca judulnya : FIQH JENAZAH

MasyaAllah, .... merinding ya ? 
Dari remaja sudah sering dengerin tausiyah, tapi belum pernah saat menginjak usia 20 betul-betul membahas sebuah kitab untuk mendalami islam dalam rangka memperbaiki iman, taqwa, banyak hal ttg kehidupan dan akhlak saya sendiri.

Sampai sekarang saya masih terkesima dengan skenario Allah yang mengetuk pintu pertama menjadi penuntut ilmu syar'i dari jalan pembahasan KEMATIAN, lebih lagi MENGURUS KEMATIAN SESEORANG / JENAZAH.

Catatan kajian pertama saya.

Pada saat itu, kondisi saya putus asa, sedih berlarut, lelah, penuh emosi yang tertahan, kondisi fisik mudah lelah, usaha mulai nol modal habis bis tanpa laba, lamaran kerja tak bersambut, dan mempertanyakan kenapa saya berada di kota ini ? Sesal tiada tara saya kembali ke kota ini. Namun, semua jalan yang Allah pilihkan ada sisi syukur dan hikmahnya, meski kita tak menyukai pilihan ini.

Tanpa prejudice, saya mendatangi kajian tsb dengan rok panjang, atasan panjang dan hijab sepinggang. Sekalipun saya belum pernah memakai set syar'i. Niat saya ingin lepas dari belenggu kebodohan dalam menyikapi masalah dan ingin mencari ketenangan dengan bermajelis bersama lingkungan yang baik.

MasyaAllah sempet minder karena rumah teman saya ini seperti sinetron besarnya dan beberapa mobil berderet. Petugas Parkir ramah mengarahkan ke sisi jalan. Masuk pun sungguh canggung. Ketika masuk saya hanya bisa melihat para muslimah. Saya pikir, ustadznya di mana ya ? Cuma dengar suaranya.

Para muslimah ini berpakaian hijab panjang dan gamis panjang gombrong berwarna gelap. Nah, saya masih belum tahu kalau pada pakai cadar atau tidak karena kan mereka sebagian besar copot cadar. Pemandangan pertama kali dan semua terlihat fokus dan ramah. Ibu-ibu cenderung santai sekali. Mukanya tidak ada yang berkesan galak.

Kalau dulu saat kuliah di ITS, outfit seperti ini hanya satu dua seliweran di Manarul 'Ilmi. Dalam hati saya setelah 2 jam ikut kajian, lah hati malah plong. Ndak terbukti kalau pengajianne sangar kereng galak. Lha wong gimana. Pembahasannya mentalkin jenazah, yang ada sepanjang kajian inget orang tua yang sudah sakit dan saya sendiri yang pengen b*n*h d*ri. Hmm...ternyata ini ada tuntunannya semua.

Akhirnya sampai sekarang saya ketagihan karena para asatidz pemateri menyampaikan ( yang terpenting ) secara ilmiah dan tata bahasa yang baik namun tetap tegas dan jelas. Semakin hari mengikuti kajian, benang kusut semakin terurai karena perbekalan ilmu agama untuk dunia dan akhirat.

Sekian deh sekilas balik dari saya. Semoga kalian juga sudah dapat moment hidayahnya untuk niat ikhlas menuntut ilmu bukan untuk cari tenar jadi selebgram, da'i dadakan ataupun cari jodoh apalagi cari rezeki harta. Yang paling susah istiqomah. Ingatlah terus moment awal perjuangan kita, semangat kita awal menuntut ilmu agar tidak merasa bosan dan yo wis.

Bagi yang ingin membaca ringkasan kajian yang saya ikuti, bisa klik di sini :

Barakallahu fiikum wa uhibbukum fiddiin 💕

Saturday, May 22, 2021

Anxiety Begins at 25

Setiap kali apabila aku terbangun pukul 23.30 WIB hingga menjelang pukul 03.00 WIB, aku merasa was-was jikalau pada rentang waktu itu mendengar suara yang tidak wajar. Ke was was an ini ada alasan yang tidak bisa aku bagi di akun publik.

Hal ini terjadi sudah tahunan, terutama semenjak aku kembali tinggal di rumah orang tuaku di tahun 2015. Semakin parah ketika menginjak pandemi.

Triggernya karena sesuatu momen dan beberapa orang yang melakukan sesuatu hal sehingga aku selalu gundah setiap terbangun malam. Cukup membuat trauma. Salah satu trigger yang bisa saya ceritakan adalah ada orang gila yang masuk ke rumah pada malam hari menjelang sahur.

Sebenarnya rasa gelisah ini tidak hanya terasa di malam hari saja. Siang hingga sore seperti ini, namun tidak separah malam hari. Ini pun ada alasannya yang tak bisa aku bagi ke publik.

Sungguh aku merindukan suatu tempat berteduh yang aman, minimalis dengan tidak terlalu banyak orang dan barang yang diurus. Aku merindukan rumah yang private, kehidupan yang tenang dan teratur tanpa tuntutan publik. Rumah yang diimpikan itu beserta keluarga yang sejalan.

Sebenarnya tempat tinggal impianku adalah sebuah rumah yang berkonsep tanpa tamu. Seperti aku sedang liburan keluarga di sebuah villa atau bungalow dengan beberapa lahan terbuka terkena sinar matahari terbit. Merindukan rumah pelepas lelah bukan penambah lelah. Merindukan tempat yang aman untukku membuka hijab, berpakaian pendek dan memakai daster sesuka hati saatku berjalan di rumah, ke kamar mandi, saat memasak dan mencuci.

Banyak alasannya, kenapa aku lebih tenang tinggal sendiri di antah berantah daripada di rumah yang selama ini aku tempati.