I've just realize a lot things in my recent week about my family.
1. Mobil Mas gue, tahun lalu kayaknya, ujug2 dibawa kabur temen deketnya. Katanya. Terus akhirnya kefoto gitu lho di ETL karena melanggar lampu merah, lupa di kota apa. Masih di Jawa. Lalu, katanya nomor hapenya gak bisa dihubungi tapi istrinya ada di rumah. Aneh aja, kefoto di luar kota kayak 6 bulan sekali, 12 bulan sekali. Dan kayaknya itu kota yang sama....Masalahnya pas ditanyain pada santai dan lempar2an. Kayak orang yang gak beneran kehilangan mobil gitu. Aku kalau kehilangan mobil itu grieving ya. Apalagi banyak kenangan dan perjuangan dengan mobil itu. Yaaa...curiga ajaaaaaa...Soalnya kita bener-bener lagi kesulitan ekonomi dan anak Masku bayar kuliah di Swasta, malah tiba2 dapat kabar mobilnya dibawa kabur temannya.
Ntar gue update lah yaaa foto mobilnya kali2 aja kalian bisa bantu nemuin.
Gimana juga ya ngecek laporan mobil itu beneran lapor atau polisinya seperti kata mereka, gak diurusin alias lambat, atau gimana gituuu? How can I make this thing sure it's done well?
2. Nah gara2 si mobil Masku ilang ini, Masku dan Mamaku punya alasan memanuver framing publik bahwa mobil yang udah atas namaku dan STNK atas namaku ini punya dia. Dan mereka act like this is their car. Mereka yang pake, tapi mereka yang nyinyir aku suruh bayar STNK dan pajak per tahun. Padahal mataku udah bermasalah dan gak bisa nyetir lagi dari tahun 2021.Trus aku give up nyetir mobil. Sebelumnya apa-apa ya aku yang jaga mobilnya itu, aku yang nyuci dan bersihin beberapa hari sekali. Nah, dan mereka nge-framing aku jelek di depan tetangga. Akhirnya di tahun ini banyak tetangga yang jahatin aku. Hahahahha...Most of the Boomer tukang bully. Lucu ya, aku marahin mereka karena ngebully aku, di rumahku. Ya jelas aku marah. Eh, lha kok gak terima. Kumpulan tukang gosip dan tukang bully.
3. Naaaaaaah niiiih. Kebayang kan Papaku tuh Komisaris suatu perusahaan konglo gede jaman 80-90, cuman emang nih perusahaan thn 2000an dan pailit. Papaku berhasil beli beberapa rumah. 5-7 rumah total. Nah, sekarang ada 3 rumah. 2 dibalik nama oleh mamaku karena dia bilang takut jatuh ke tangan pelakor dan 1 masih nama pemilik lama. Nah, rumah yang SHM masih pemilik nama, alhasil rumah papaku dong, dan itu harusnya jadi harta warisan yang dibagi-bagi. That's why, aku merasa ini rumah milikku juga. Makanya aku kok secara naluriah njagain banget dan ngerawat bersih rumah ini.
Mamaku pernah bilang dengan nada agak sinis menantang sambil rada ketawa kecil,"Kalau kamu punya uang ya balik nama aja ni rumah. Urusin sendiri." But...setelah aku ngobrol sama temenku orang hukum, dia bilang kalau rumah yang belum dibalik nama sebelum Papa meninggal, ya itu milik ahli warisnya. Kalau udah dibalik nama sebelum Papa meninggal, berarti hibah.
Nah,...makanya selama aku stay di sini terutama pasca covid (which is pasca papaku meninggal) keuangan makin seret dan kacau. Karena ada hak-hak yang belum ditunaikan. Tahun lalu aku sengaja ke kuburan Papaku dan bilang gini,"Oke Pa, aku maafin Papa." Sebelumnya sih sehari2 do'a gitu, tapi momen kemarin tuh beneran kayak orang sembelit lega dan aku cukup khidmat berdoa mengucapkan kata maaf ini.
Nah, well...mau nulis apa lupa.
Oh ya, hari ini tanganku gemeter hebat karena aku dengar sendiri nyinyiran dan fitnah Masku plus Ibuku dan tetanggaku lalu memanipulasi semuanya. Heboh banget..aku sampe terbesit bunuh diri. But, I already know little know how saat kondisi reaktif dibully terjadi. Akhirnya aku bisa regulasi dan jadi tahu, gimana sih cara mereka menangkap dan mendelivery, memutarbalikkan ucapanku ke orang lain sampai orang-orang yang gak kenal sama aku itu marah dan benci. Hemm, so that's how they play to apaan sih namanya NPD ini.
Just want to put something here, just in case I have short term memory loss because of my ADHD.
Dosa-Dosa Masku yang Harusnya Dia Dilaporin Polisi Selama Ini
1. Menodongkan pisau ke mulut ART sambil mengancam
2. Mengancam dan memasukkan/menyemprotkan Baygon ke mulutku hanya karena aku mau beli jajan taro yang direbut sama dia. Padahal itu taro kesukaanku.
3. Menginjak-nginjak, smack down, dan mencekik beberapa saudara saat bermain hanya karena dia gak mau kalah.
4. Menghajar istrinya sampai mimisan, babak belur, berkali-kali, dan mengancam dengan pisau di mobil (?). Pokoknya serem banget deh. Bahkan itu kenceng sekali. Sayangnya aku masih muda. Cuma bisa minta tolong ke mamaku, tapi ternyata dia cuek banget dan ga urus. Akhirnya aku juga putus asa.
5. Menghalang-halangi membawa anaknya yang sakit typhus ke rumah sakit ataupun berobat ke dokter, sampai badan biru, dingin, dan lemas, kencing kuning kecokelatan, dan kental. Kalau muntah atau masih demam, dimarahin dengan nada mengancam setiap malam, bahkan ditampar dengan keras. Inilah yang mentrigger aku membawa kabur ponakanku dari sekolah (lagi masa ujian akhir sekolah, dia kelas 6) , aku nangis-nangis di ruang guru lalu aku bawa ke IGD.
6. Aku lupa...mungkin itu aja udah cukup gendheng.
No comments:
Post a Comment