Monday, October 7, 2019

[ Instagram Update ] 5 Juli 2016

Pantai Molang, Tulungagung di kala senja.


"Bagai pasir di tanah itu, aku tak harus jadi penting." 

~Seno Gumira Ajidarma dalam Atas Nama Malam.


Sunday, October 6, 2019

[ Instagram Update ] 25 Mei 2016

[ Pantai Coro, Tulungagung ]



"Engkau adalah jalan menuju sembunyi. Sembuh dari sunyi."
~ Joko Pinurbo


وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيب

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah),
bahwasanya Aku adalah dekat."  
[ QS. Al Baqoroh : 186 ]



Sunday, June 16, 2019

Pedagang yang Dirindukan Surga

Ahad, 16 Juni 2019
oleh Ustadz 'Ammi Nur Baits hafidzahullah
di Masjid Al Ikhlas Palm Spring, Jambangan, Surabaya


Dakwah sunnah akan selalu hidup sebagaimana yang telah Allah tetapkan. Dakwah sunnah bisa berjalan, menyebar luas, bukan karena jasa manusia, namun atas kehendak Allah ta'ala.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
"Akan selalu ada di kalangan umatku, dia selalu menang di atas kebenaran, selalu menampakkan kebenaran. Keberadaan mereka tidak akan dirusak atau diganggu sampai datang angin lembut."

Allah menjadikan ahlussunnah wal jama'ah itu ma'sum sebagaimana Al Qur'an tidak akan bisa dirusak atau dimusnahkan. Allah akan mencabut Al Qur'an di akhir zaman. Ma'sum di sini artinya keberadaannya dijaga oleh Allah langsung dan tidak ada kebenaran yang hilang di dalamnya.

Hadits shahih : "Ketika Allah mencintai hambaNya, maka Allah akan mempekerjakannya." Maksud hadits ini adalah Allah akan memberikan taufiq kepadanya untuk beramal shalih. Salah satunya yaitu berdakwah sebagai amal shalih hingga kematian menjemputnya.


Kaidah Bermuamalah dengan Baik

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
"Seseorang pedagang yang jujur dan amanah akan dikumpulkan oleh para Nabi, Shahabat, Syuhada dan Shiddiqin."

Dua karakter pedagang yang akan dikumpulkan dengan para Nabi, Shahabat, Syuhada dan Shiddiqin yaitu Amanah dan jujur. Keduanya berat dan sulit karena haru menghadapi tantangan fitnah dunia dan ada resiko ditipu dan lain-lain.

Persamaan antara pedagang dengan para shiddiqin dan syuhada adalah sama sama harus bersabar.
Perbedaannya yaitu apabila para shiddiqin dan syuhada kegiatannya murni untuk akhirat sedangkan pedagang untuk duniawi.

Adab Mencari Harta

Terkait mencari harta ada dua tingkatan yaitu secara hukum dan tingkatan adab.
Tingkatan hukum adalah mencari tahu halal haram baik dalam segi barang atau jasa maupun transaksinya.

Bab ADAB tingkatannya lebih tinggi daripada bab HUKUM.

1. Sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Jarir bin Abdillah, memiliki kebiasaaan menawar barang dengan harga tinggi, yaitu ketika berdagang menjual dengan kualitas terbaik bagi pembeli. Hal ini termasuk tingkatan ADAB yaitu memberikan yang terbaik bagi orang lain. Tidak sebatas ambil halalnya namun juga semakin indah akhlaqnya ketika berdagang. Jika ingin disikapi yang baik, maka sikapilah orang lain dengan baik. jika ingin untung, maka berilah keuntungan kepada orang lain.

Penghasilan yang mabrur adalah hasil jual beli yang tidak meninggalkan sengketa : penjual memberikan yang terbaik untuk pembeli, pembeli memberikan yang terbaik untuk penjual ( contohnya tidak sadis dalam menawar, memberi barang yang tidak sesuai, dll. )

2. Memaksimalkan dan memanfaatkan potensi yang kita miliki. Apabila kita tidak mampu mengolah atau mengatasi sendiri, maka berilah peluang kepada orang lain yang mampu. Dalam hadits riwayat Muslim : " Siapa yang memiliki tanah, hendaknya dia kelola, jika tidak bisa, maka berikan kesempatan saudaranya untuk mengelola." Umat Islam sebenarnya memiliki potensi yang tinggi.

3. Transaksi di tengah-tengah Kaum Muslimin

Dalam transaksi ada yang boleh mendapat keuntungan dan ada yang tidak boleh mendapatkan keuntungan.

Aktivitas KOMERSIL, yaitu transaksi yang diniatkan mencari untung, boleh mendapat keuntungan.
Aktivitas NON KOMERSIL, yaitu transaksi yang diniatkan tidak mencari untung, tidak boleh mendapat keuntungan karena Allah akan ganti dengan pahala.

Adanya keuntungan harus berbanding dengan adanya kerugian.
"Tidak boleh ada keuntungan yang tidak menanggung resiko kerugian." [ HR. Abu Dawud ]
Siapapun yang ingin untung, maka harus siap dengan resiko rugi.

Semua kegiatan non komersil tidak boleh mencari keuntungan, yang dibolehkan hanya mencari pahala. Contoh : Usaha katering dengan proyek promosi memberi makan fakir miskin, tapi harus membeli makanannya dia ( mengambil keuntungan ).

4. Hindari transaksi GHARAR ( tidak jelas ) dan RIBA

Contoh : membeli sesuatu dengan melempar (membeli tanah sejauh lemparan kerikil), pecah berarti membeli (seharusnya adalah pecah berarti mengganti rugi dan prosesnya bisa tawar menawar), menjual janin yang masih di dalam kandungan, jual beli ijon (jual beli hasil pertanian yang belum kelihatan panen/masaknya), bagi hasil gharar dengan contoh lahan ditanami cabai oleh pemilik lahan, jagung ditanam oleh investor ( mukhatharah = pertaruhan), dan asuransi (gharar). 

Nabi melarang menggabungkan hutang dan jual beli karena ini termasuk RIBA. 
Riba asasnya dalah kedzaliman (bank) dan gharar asasnya adalah untung-untungan (asuransi).

Kita memohon kepada Allah agar terhindar dari dua transaksi di atas, sehingga harta yang kita dapat halal dan bisa kita pertanggung jawabkan nanti di akhirat.


*catatan kajian oleh Ukhti Ari dan Ummu Rayyan

Tuesday, April 30, 2019

Menaati Pemimpin Kaum Muslimin sebagai Bentuk Ibadah kepada Allah

Bismillahirrahmanirrahiim, semoga Allah menyayangi kita dan semoga kita sadar bahwa Allah menyayangi hamba-hambaNya.

Kita ketahui hari ini adalah hari yang sangat kental dengan kata kunci "Pemimpin". Atas kehendak Allah, saya diberikan ilmu-ilmu mengenai "Pemimpin" ketika sedang tidak secara khusus mencarinya. Bisa dikatakan momen ini adalah serendipty. Ini adalah Qadarullah, dan jawaban atas do'a-do'a yang saya panjatkan, ( benar saja, "senjata seorang muslim adalah do'a" ). Do'a-do'a ini juga bukan do'a yang  sehari-hari saya panjatkan, namun beberapa pekan ini atas kehendakNya, mendadak saya melantunkan do'a ini. Alhamdulillah, Allah yang menjadikan kita menerima ilmu yang telah Dia kehendaki melewati hamba-hambaNya yang sholeh, hafidzahumullah. Semoga Allah menjaga mereka, para da'i-da'i yang tegar di atas sunnah, tidak takut dan tidak bosan mengajak para jama'ah kembali ke jalan yang Allah ridhoi.


Kepemimpinan dalam Islam

Berbicara mengenai kepemimpinan dalam Islam, kita perlu paham arti dari Pemimpin. 

Diriwayatkan al Bukhari dalam Kitab Al Ahkam pada pembukaannya dan Muslim di kitab al Imarah, bab Fadhilah al Imam al Adil 


كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ


"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya."

dengan lanjutan hadits, saya nukilkan lafadz hadits dari kitab yang telah disebutkan sebelumnya.

الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ قَالَ وَحَسِبْتُ أَنْ قَدْ قَالَ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي مَالِ أَبِيهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

"Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut." Aku menduga Ibnu 'Umar menyebutkan: "Dan seorang laki-laki adalah pemimpin atas harta bapaknya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atasnya. Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya."

Syeikh Al Utsaimin rahimahullah mengomentari penjelasan dalam hadits ini, pemimpin adalah orang yang diberi kekuasaan ( wewenang, memfasilitasi, bertanggung jawab ) atas kaum muslimin baik secara khusus atau umum, skala kecil maupun besar, baik dalam lingkup rumah seperti rumah tangga, atau sekolah yaitu kepala sekolah ataupun yayasan, guru sebagai pemimpin kelas, dan imam masjid sebagai pimpinan masjid. ( Kalau di Indonesia bisa dikatakan pimpinan masjid adalah takmir atau yayasan yang menaunginya, namun syar'inya pemimpin masjid adalah Imam Masjid ).

Begitu pula orang tua dimintai pertanggungjawaban atas anak-anaknya.


Prinsip Ketaatan kepada Pemimpin

Prinsip dalam Islam, menaati pemimpin adalah sebuah bentuk menjalankan ibadah kepada Allah. Landasan taat kepada pemimpin adalah landasan taat kepada Allah dan RasulNya, seperti halnya para isteri yang taat kepada suaminya. Imam Al Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan :

حَدِيْثُ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنْ رَسُوْلَ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ قَالَ : مَنْ أَطَاعَنِيْ فَقَدْ أطَاعَ اللهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهَ , وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيْرِي فَقَدْ أطَاعَنِيْ مَنْ عَصَى أَمِيْرِيْ فَقَدْ عَصَانِيْ

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 
"Barangsiapa yang taat kepadaku maka berarti taat kepada Allah, dan barangsiapa yang durhaka kepadaku berarti durhaka kepada Allah, dan barangsiapa yang taat kepada pemimpin berarti taat kepadaku, dan barangsiapa yang durhaka kepada pemimpin yang aku angkat berarti durhaka kepadaku."


Dalam Kitab Syarah Ushulus Sunnah : Keyakinan Imam Ahmad rahimahullah dalam Aqidah, oleh Syeikh Walid bin Muhammad Nubaih, disebutkan :

وَالسَّمْعُ وَالطَّاعَةُ لِلأَئِمَّةِ، وَأَمِيرُ الـمُؤْمِنِينَ، البَرُّ وَالفَاجِـرُ، وَمَنْ وَلِيَ الخِلافَةَ، فَاجْتَمَعَ النَّاسُ عَلَيْهِ، وَرَضُوا بِهِ، وَمَنْ غَلَبَهُمْ بِالسَّيْفِ حَتَّى صَارَ خَلِيفَةً [وَسُمِّيَ] أَمِيرَ الـمُؤْمِنِين

Poin ke 28.
"Mendengar dan taat pada para imam dan pemimpin kaum mukminin yang baik maupun yang buruk dan kepada khalifah yang manusia bersatu padanya dan meridhainya. Dan juga kepada orang yang telah mengalahkan manusia dengan pedang ( kekuatan ) hingga ia menjadi khalifah dan disebut sebagai Amirul Mukminin ( pemimpin kaum mukmin )."

Prinsip dasar menaati pemimpin ini adalah berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla pada Al Qur'an surat An Nisaa ayat 59, yang berbunyi :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."



Bagaimana Sikap Terhadap Pemimpin yang Dzalim


  ۚ إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ
أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

"Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat dzalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih." [ Asy Syura : 42 ]

Kedzaliman ada tiga macam, yaitu : 
  1. Kedzaliman kepada Allah : Syirik, maksiat dan durhaka kepada Allah. Seperti yang tercantum pada surat Luqman ayat
  2. Kedzaliman kepada sesama : Dzalim kepada manusia atau makhluk Allah lainnya ( contoh hewan )
  3. Kedzaliman kepada diri sendiri 

.... ( to be continued )